Candi Kethek: Tergerusnya Hindu-Buddha & Bangkitnya Agama Asli Jawa di Akhir Majapahit

WARTA SEJARAH – Sebuah lereng di Gunung Lawu … yang dipercaya sebagai istana ribuan kera dilalap api, Dan muncullah tumpukan batu yang ternyata adalah sebuah candi tanpa pahatan, Yang mengungkap informasi penting mengenai penyebab runtuhnya kemaharajaan paling digdaya di Asia Tenggara, yakni Majapahit Oke, teman-teman, kita masih di Indonesia, tepatnya di Jawa Tengah, Dan candi yang kita kunjungi dibangun kira-kira bersamaan saat .

Laksamana Cheng Ho memimpin pelayaran keliling dunia dengan ratusan kapal, hingga mencapai pantai timur Afrika. Yuk kita ke sana. Mendung gelap menggantung di langit Majapahit saat Raja Hayam Wuruk menghembuskan nafas terakhirnya. Putrinya, Kusumawardhani, mendaki tahta dan mengawali kemelut yang panjang.

Ketika sang ratu meninggal 10 tahun kemudian, kekuasaan atas Majapahit dilanjutkan suaminya, Wikramawardhana. Namun Bhre Wirabhumi, satu-satunya putra Hayam Wuruk dari selir, merasa lebih berhak atas tahta dan menggerakkan angkatan perangnya.

Paregreg, atau perang saudara, tak terelakkan lagi. Majapahit melawan Majapahit. Meski Bhre Wirabhumi kemudian berhasil dikalahkan dan dipenggal, namun Majapahit terperosok dalam perebutan kekuasaan yang seolah tiada akhir, hingga kemaharajaan ini pun mengalami kemerosotan.

Di masa inilah, beberapa candi di lereng Gunung Lawu dibangun. Salah satunya, Candi Kethek. Yuk kita mulai menelisik. Untuk menuju Candi Kethek kita harus masuk ke kompleks Candi Cetho. Dan atribut tambahan ini wajib digunakan karena candi-candi ini masih digunakan untuk beribadah.

Telisik Candi Cetho sendiri dapat Anda tonton nanti pada link di atas atas di deskripsi.

Nah, pintu masuk ke Candi Kethek ada di teras ke-7 Candi Cetho. Asyiknya, ada banyak penjual makanan dan souvenir di sini. Sebenarnya perjalanan dari Candi Cetho menuju Candi Kethek agak jauh, namun tidak akan terasa karena kita disuguhi pemandangan alam sekaligus udara yang segar. Siapkan stamina bagi yang tidak terbiasa hiking karena jalannya menanjak.

Jalan ini juga salah satu jalur pendakian ke puncak Gunung Lawu. Oke, sampailah kita di Candi Kethek. Yuk kita mendekat. Candi Kethek lebih jarang dikunjungi bila dibandingkan dengan tetangganya yang lebih terkenal, yakni Candi Cetho dan Candi Sukuh. Mungkin karena lokasinya agak tersembunyi.

Namun justru kesunyian inilah yang membuat suasana semakin syahdu. Candi Kethek menghadap ke barat dan terdiri dari beberapa teras. Yuk, kita ke teras paling bawah. Teras ini belum diketahui batas-batasnya. Penghubung ke teras selanjutnya adalah tangga sempit selebar 1/2 meter, yang membelah bangunan talud berbahan batu andesit.

Jika diperhatikan, talud ini sangat mirip dengan bentuk piramid di Candi Sukuh maupun Cetho. Namun, jika piramid di Candi Sukuh dan Candi Cetho terletak di teras teratas, atau yang paling suci, piramid Candi Kethek ada di bagian terbawah. Karena terdapat larangan menaiki tangga, untuk mencapai teras selanjutnya kita harus melalui jalan berbatu di samping candi.

Ini teras kedua. Meski terlihat kosong, di sini terdapat sisa bangunan yang mengapit jalan menuju tangga.

Sama seperti sebelumnya, teras di ketinggian ini pun dibatasi talud batuan andesit yang menghubungkan ke teras selanjutnya. Terdapat tangga sempit di tengah-tengah talud. Yuk naik ke teras berikutnya. Teras ketiga terlihat lebih sempit. Di sini pun terdapat sisa bangunan yang mengapit jalan menuju tangga.

Ada beberapa batuan bolder yang cukup besar. Bangunan selanjutnya terdiri dari beberapa teras sempit yang dibatasi talud batu. Talud-talud ini pun dibelah oleh tangga-tangga sempit yang ditata tanpa pengunci. Sebaiknya teman-teman tidak menaiki tangga-tangga ini, ya, untuk menjaga kelestariannya. Nah, akhirnya kita sampai di teras puncak.

Jika mengacu pada Candi Sukuh dan Cetho, maka seharusnya di sini dulu terdapat bangunan dari bahan organik sebagai sarana pemujaan. Yang ada saat ini adalah altar buatan baru. Namun hal ini bisa dipahami karena sebagaimana candi-candi di lereng Gunung Lawu, candi ini pun masih aktif digunakan untuk beribadah.

Candi Kethek tidak dibekali inskripsi apa pun yang memberi tahu kita fungsi ataupun tanggal pembangunannya. Candi ini juga polos tanpa relief naratif.

Sebetulnya, dalam ekskavasi tahun 2005 oleh BPCB Jawa Tengah, ditemukan arca kura-kura di bawah tangga pada teras pertama. Meski arca tersebut tidak terlihat lagi sekarang, data tersebut cukup memberi kita gambaran, Karena arca kura-kura sejenis juga banyak bertebaran di kompleks Candi Cetho, dalam berbagai ukuran. Sehingga, dengan mempertimbangkan kesamaan gaya pengarcaan, juga struktur bangunan candi secara keseluruhan dengan Candi Cetho, sejarawan menduga Candi Kethek dibangun dalam kurun waktu yang sama dengan Candi Cetho, yakni sekitar abad ke-15 hingga ke-16 M. Kura-kura sendiri sering kali dihubungkan dengan kisah Samudramanthana, yakni pengadukan samudra dalam khasanah Hindu. Namun, perlu digaris bawahi bahwa pada masa dibangunnya candi ini, kisah Samudramanthana telah dimodifikasi oleh masyarakat Jawa Klasik, menjadi kisah Pemindahan Mahameru ke Jawa.

Sehingga kura-kura ini mungkin bukanlah akupa jelmaan Dewa Wisnu seperti dalam kisah Samudramanthana, melainkan jelmaan Dewa Brahma, yang menyangga Gunung Mahameru di atas tempurungnya, dalam kisah Pemindahan Mahameru ke Jawa. Belakangan kura-kura ini disebut bedawang, dan masih dikenal di pulau lain seperti Bali, bahkan diserap dalam pewayangan Jawa zaman kesultanan.

Dengan demikian candi ini dimaksudkan sebagai gunung mahameru, yang disangga kura-kura dan di puncaknya bersemayam para dewa. Selengkapnya mengenai mitos kura-kura raksasa yang memanggul Mahameru dalam kisah Samudramanthana versi Jawa, bisa diklik nanti pada tautan di atas atau di deskripsi. Nah, penemuan Candi Kethek pun menyimpan kisah yang menarik.

Kendati para peneliti Belanda, yang mengobservasi Gunung Lawu pada tahun 1842, telah menemukan candi ini, entah mengapa penelitian tidak berlanjut dan candi ini lenyap tertimbun lebatnya hutan. Bahkan menurut cerita penduduk, lokasi ini dihuni kawanan kera, yang karena saking banyaknya membuat para pencari kayu takut mendekat. Dari situlah nama kethek, yang berarti kera, disematkan. Hingga terjadilah kebakaran hutan yang menyibak keberadaan candi ini. Terus ikuti ya teman-teman, karena batu-batu yang menyusun Candi Kethek, turut merekam gejolak masyarakat yang terjadi di masa akhir Majapahit.

Dan mengungkap salah satu penyebab runtuhnya kemaharajaan ini. Namun sebelumnya, jangan lupa untuk SUBSCRIBE, LIKE, DAN SHARE Juga klik link di atas jika Anda ingin mendukung kami dalam hal pendanaan, Untuk mengembangkan kanal yang akan memperkaya perspektif Anda. Sebagaimana candi-candi lain di lereng Gunung Lawu, keberadaan Candi Kethek pun dikaitkan dengan sosok Prabu Brawijaya yang dianggap sebagai raja terakhir Majapahit. Menurut tradisi masyarakat, akibat serangan Raden Patah, Prabu Brawijaya melarikan diri bersama rombongannya ke Gunung Lawu.

Sang raja lalu memasuki Candi Cetho, setelah itu ke Candi Kethek ini, kemudian menuju Pamoksan, dan akhirnya ke puncak gunung.

Berdasarkan metode kritik sumber, yang tautannya bisa teman-teman cek di atas atau di deskripsi, Kami tidak mempercayai Prabu Brawijaya sebagai tokoh historis. Begitu pun segala kisah dan legenda yang dilekatkan dengannya. Meski demikian, penghargaan kami pada mereka yang meyakini keberadaan beliau tidaklah berkurang. Kami akan membedah lebih jauh analisis dan bukti sejarah terkait ahistorisnya sosok Prabu Brawijaya, dalam video terpisah. Jika sudah ada, linknya akan tersedia di atas atau di deskripsi.

Di masa Majapahit akhir, di lereng-lereng gunung, banyak dibangun tempat-tempat suci, misalnya karesian untuk para resi, patapan untuk para pertapa, bahkan juga kadewaguruan, yakni sarana pendidikan agama. Dan lereng Gunung Lawu bukanlah pengecualian.

Uniknya, Candi Kethek, Candi Cetho, dan Candi Sukuh, mengusung dua tema yang seragam, yakni tradisi ruwat, dan punden berundak. Yuk kita bedah satu per satu. Punden berundak adalah sebentuk bangunan yang mengakomodasi kepercayaan asli bangsa Austronesia, yang menjadi cikal-bakal dari peradaban Asia Tenggara, termasuk nusantara, sebelum masuknya pengaruh Hindu.

Masyarakat Austronesia meyakini bahwa arwah dari leluhur yang telah meninggal dunia, akan bersemayam di bukit-bukit yang tinggi atau di puncak gunung. Masyarakat Austronesia juga meyakini bahwa hubungan dengan mereka yang telah pergi, berpengaruh pada kesejahteraan dan kesuburan manusia di bumi. Atas dasar itulah punden berundak dibangun semakin mengecil ke atas, menyerupai gunung, dan digunakan sebagai tempat pemujaan terhadap roh nenek moyang. Ketika pengaruh Hindu masuk, alasan pengeramatan gunung pun berkembang.

Gunung-gunung menjadi tempat bersemayamnya para dewa, dan itu terlihat dari arsitektur candi Hindu dengan atap yang pada umumnya menyerupai meru atau gunung serta mengusung konsep Asta-Dikpalaka Nah, di masa akhir Majapahit, ketika pengaruh Hindu memudar, kepercayaan asli nusantara yang diejawantahkan dalam punden berundak, kembali menyeruak.

Termasuk candi-candi di lereng Lawu. Karena itulah Candi Sukuh dan Candi Cetho menampilkan bentuk yang unik dan berbeda dengan candi-candi yang umumnya kita kenal. Bahkan ada yang menyebut Candi Sukuh mirip piramida Aztec atau peradaban Maya di Amerika Selatan. Padahal itu adalah bentuk punden berundak, yang merupakan kepercayaan asli nusantara. Nah, apa sih yang menyebabkan maraknya kembali kepercayaan asli pra-Hindu di akhir masa Majapahit?

Mari kita mundur sejenak untuk melihat gambaran yang lebih luas. Dalam masyarakat Jawa klasik, terdapat lapis-lapis sosial, yang terdiri dari kalangan dalam keraton dan kalangan luar keraton. Pada masa keemasan Majapahit, Raja Hayam Wuruk mampu merangkul dua lapis sosial ini dalam satu visi, yakni kemakmuran bersama. Negarakertagama mencatat bagaimana sang raja berhasil mewujudkan ketahanan pangan dan menegakkan supremasi hukum di Majapahit, sehingga rakyatnya makmur sentosa. Sayangnya, sepeninggal Hayam Wuruk pada 1389 M, para penerusnya sibuk berebut tahta, mengejar kesenangan, dan abai pada kepentingan rakyat.

Pararaton pun mencatat, setelah perang paregreg usai pada 1406 SM, terjadi bencana kelaparan di negeri ini.

Bahkan Majapahit sempat mengalami kekosongan takhta selama tiga tahun (1453-1455 SM). Hal-hal yang terjadi setelahnya kian menyurutkan kepercayaan rakyat terhadap keraton. Dan ketidakpuasan itu terejawantahkan dalam pemberontakan budaya, ketika rakyat tidak mau lagi mengikuti hegemoni keraton yang kental dengan pengaruh India. Pemberontakan budaya tersebut, yang pertama, terlihat jelas dalam munculnya konsep Durga Ranini atau Durga bertaring di akhir masa Majapahit, yang menggambarkan dewi India ini dengan cara yang sangat berbeda dan agak mengerikan

Kidung Sudamala menceritakan, Dewi Durga berselingkuh dan dikutuk Bathara Guru menjadi raksesi. Ia baru dapat kembali menjadi seorang dewi, setelah diruwat oleh Sadewa, bungsunya Pandawa. Kisah bertema ruwat atau penyucian, seperti Durga Ranini, Sudamala, Garudeya, dan Bhimaswarga, sering kita jumpai di candi-candi lereng Gunung Lawu, misalnya di Candi Sukuh dan Candi Cetho.

Dan fenomena ini menggambarkan pemberontakan budaya sekaligus harapan rakyat saat itu akan pulihnya Majapahit dari keterpurukannya. Nah, pemberontakan budaya kedua adalah kembalinya rakyat ke kepercayaan asli mereka.

Di awal abad ke-16, Tomi Pires mencatat dalam Suma Oriental bahwa bersamaan dengan menguatnya pengaruh Demak di wilayah pesisir utara Jawa, Dan memuncaknya ketidakpuasan rakyat pada penguasa karena lahan-lahan mereka direbut, lebih dari 150 ribu orang menjadi pertapa dan tinggal di gunung-gunung seumur hidupnya.

Jelas, ya, sepertinya pada masa itu masyarakat mengalami geliat spiritualitas kuno yang mungkin dianggap lebih murni. Dan hal itu terlihat dalam rupa Candi Kethek, yang sangat mirip dengan punden berundak ala Austronesia, serta bersih dari unsur ikonografi ala candi hindu. Setiap elemennya asli nusantara. Bagi kami, senyapnya Candi Kethek justru menggaungkan betapa riuhnya pergolakan masyarakat di masa bangunan ini digunakan.

Pergolakan yang kemudian berakhir ketika Demak, di bawah pimpinan Sultan Trenggana, mengakuisisi bekas wilayah Majapahit dan menduduki Gunung Penanggungan, seperti yang bisa dilihat pada link di deskripsi. Pada akhirnya, Candi Kethek pun ditinggalkan penggunanya dan lenyap ditelan rimba. Namun, kisah panjang yang melingkupi candi ini, memberi kita gambaran bahwa Majapahit, kemaharajaan besar itu, mulai meniti jalan kehancurannya ketika para penguasanya mulai berebut tahta, mementingkan diri sendiri, dan mengabaikan kesejahteraan rakyat.

Dan ketidakpuasan rakyat terhadap penguasa, adalah momen yang dimanfaatkan musuh-musuh Majapahit untuk berkoalisi dan memberontak. Dan ini, adalah sesuatu yang harus kita waspadai pula di masa kini.

Pemerintah yang mau belajar sejarah, akan bekerja sungguh-sungguh demi menyejahterakan rakyat dan meraih kepercayaan mereka. Namun, di lain sisi, rakyat yang melek sejarah akan mendukung dengan apa yang ia bisa, dan berhati-hati dalam menyikapi setiap ajakan tendensius untuk tidak puas terhadap pemerintah. Karena berbeda dengan zaman Majapahit akhir, di mana ketidakpuasaan rakyat didasarkan pada alasan dan keadaan yang nyata, Kita sekarang hidup di masa ketika ketidakpuasan pada pemerintah dapat dirancang dan diembuskan oleh media demi agenda politik tertentu. Maka, marilah kita dengan bijak menyaring dan memilah setiap informasi, serta berkarya sebaik mungkin bagi kemajuan negeri, dengan apa yang kita bisa.

Agar nusantara yang diwariskan Majapahit bagi kita, tidak ambruk seperti kerajaan itu.

Namun tetap jaya hingga ribuan masa..


SUMBER : YT/ASISI CHANEL

Pos terkait