Gayatri Rajapatni, Perempuan Paling Berbahaya Dibalik Kejayaan Majapahit

Gambar Ilustrasi Gayatri Rajapatni 

Warta Sejarah – Di awal abad 15, di balik jatuh-bangunnya raja-raja Jawa, seorang perempuan menata imperium yang besar. Langkah-langkahnya yang taktis menjadikannya politikus ulung Majapahit dan perempuan paling berbahaya di Asia Tenggara. Ialah Gayatri Rajapatni. Saat Gayatri menancapkan pengaruhnya di nusantara, Sultan Orhan dari Turki Utsmani beraliansi dengan Romawi timur dengan menikahi putri Konstantinopel yang berbeda agama. 
Sejarah mencatat, pada tahun 1289, Raja Kertanegara melukai dan mengusir utusan Mongol yang menuntut ketundukan Jawa. 
Gayatri tahu, ayahnya tengah menggencarkan politik Dwipantara, yakni menyatukan seluruh Nusantara di bawah panji Singhasari. Selama sepuluh tahun lebih, berbagai pemberontakan di dalam negeri dipadamkannya, dan daerah-daerah di luar Jawa ditundukkannya. 
Salah satu yang dicatat Negarakertagama adalah ekspedisi Pamalayu (1275–1286 M), operasi militer terhadap Kerajaan Melayu di Dharmasraya, Sumatra.
Prasasti Padang Roco mencatat, setelah Melayu ditundukkan, pada tahun 1286 M dikirimlah arca Amoghapāśa sebagai hadiah dari pāduka Śrī Mahārājādhirāja Kṛtanagara kepada Śrī Mahārāja Śrīmat Tribhuwanarāja Mauliwarmmadewa, sang raja Malayu.
Perbedaan gelar antara kedua raja dalam prasasti tersebut menyiratkan Dharmasraya pada saat itu telah menjadi daerah bawahan Singhasari. Gayatri menyaksikan impian besar ayahnya mulai terwujud, ketika Bali, Pahang, Gurun, dan Bakulapura pun bergabung di bawah panji Singhasari.
Sayangnya, pada tahun 1292, istana Singhasari diserbu Jayakatwang, bupati Glang-Glang yang memberontak karena hasutan Arya Wiraraja. Serangan itu menewaskan kedua orang tua Gayatri, sementara suaminya, yakni Dyah Wijaya, dan tiga saudarinya hilang tak tentu rimba. Gayatri pun ditawan Jayakatwang di istana Daha.
Pararaton mengisahkan, beberapa bulan kemudian, Dyah Wijaya muncul mengabdi di istana Daha. Namun, saat Mongol menyerang Daha, Gayatri langsung dilarikannya ke desa Majapahit, yang menjadi basis perjuangan Dyah Wijaya. 
Di sana Gayatri berkumpul kembali lagi dengan ketiga saudarinya. Namun, masalah lain yang tak kalah genting telah menantinya. Rupanya pasukan Mongol menyerang Daha karena telah bersepakat dengan Dyah Wijaya.
Dan Arya Wiraraja, sosok di balik pemberontakan Jayakatwang dan bantuan Mongol, menjanjikan Gayatri dan kakaknya sebagai tanda takluk Jawa kepada Mongol.
Untunglah Dyah Wijaya dan pasukannya berhasil menyerang balik dan mengusir Mongol dari tanah Jawa. Aksi Dyah Wijaya ini pun dicatat oleh tiga jenderal Mongol dalam Sejarah Dinasti Yuan (1279-1368 M) Dan pada tahun 1293, Dyah Wijaya menjadi raja pertama Majapahit, dengan gelar Kertarajasa Jayawardana. Semua saudari Gayatri dinikahinya, dan yang tertua, yakni Dyah Tribhuwana, diangkat sebagai permaisuri dengan gelar Tribhuwaneswari. Namun Gayatri, yang bergelar Rajapatni, adalah istri yang paling disayanginya.
Menurut Pararaton, tak lama kemudian, pasukan ekspedisi Pamalayu yang dulu dikirim mendiang Raja Kertanegara, tiba di Majapahit, memboyong dua putri jelita dari Melayu.
Salah satunya, Dara Petak, dijadikan selir oleh Dyah Wijaya. Dan dari Dara Petak inilah lahir Jayanagara (1294-1328 M), yang dinobatkan sebagai putra mahkota karena istri-istri Dyah Wijaya tidak dikaruniai anak, Kecuali Gayatri, yang belakangan melahirkan dua putri, yakni Dyah Gitarja dan Dyah Wiyat. Pada tahun 1309 M, Dyah Wijaya mangkat dan digantikan Jayanagara. Namun, 19 tahun kemudian, Jayanagara terbunuh sebelum sempat memiliki keturunan.
Gayatri, yang berhak menggantikannya, lantas memilih menjadi biksuni, dan putri sulungnya, yakni Dyah Gitarja, pun bertakhta dengan gelar Tribhuwana Wijayatunggadewi. Di masa inilah mahapatih Gajah Mada mengikrarkan sumpah palapa untuk menyatukan nusantara di bawah panji Majapahit, Diikuti masa penaklukkan dan perluasan kekuasaan Majapahit.
Di masa tuanya, Gayatri menyaksikan Majapahit tumbuh menjadi kekuatan digdaya di Asia Tenggara. Dan pada tahun 1350, ia meninggal dalam damai, dan diarcakan sebagai Prajnaparamita di Candi Wisesapura di Bayalangu. Namun benarkah hanya sebatas itu peran Gayatri di panggung sejarah?
Di balik personanya sebagai seorang biksuni, Gayatri adalah politikus yang jenius. Dengan menggali berbagai catatan sejarah Majapahit, mulai dari sumber primer seperti prasasti dan Negarakertagama, hingga sumber sekunder seperti Pararaton, kita dapat menganalisis sejauh mana kemungkinan peran Gayatri dalam percaturan politik Majapahit.
 1. MENYINGKIRKAN PEMIMPIN YANG LEMAH
Kitab Pararaton menceritakan betapa buruknya moralitas raja kedua Majapahit.
Selain berniat mengawini adiknya sendiri, yakni putri-putri Gayatri, Jayanagara pun gemar melecehkan perempuan.
Salah satu korbannya adalah istri Tanca, tabib pribadi raja, dan Tanca mengadu pada Gajah Mada. Kebetulan Jayanagara memiliki sakit bisul, dan Gajah Mada meminta Tanca mengoperasinya. Pada momen itulah Tanca menikam raja. Dan Gajah Mada dengan sigap membunuh Tanca di tempat.
Pembunuhan Jayanagara menjadi skandal dalam sejarah Majapahit, karena ditemukan berbagai kejanggalan. Pertama, isu pelecehan istri Tanca seakan digoreng berdekatan dengan kondisi raja yang butuh dioperasi. Kedua, Gajah Mada kok malah mengizinkan tabib yang menyimpan dendam dan membawa senjata tajam, untuk masuk ke kamar raja. Padahal Gajah Mada yang pernah memimpin pasukan bhayangkara, tentu paham betapa besar risikonya bagi keselamatan raja. Ketiga, Gajah Mada langsung membunuh Tanca tanpa proses hukum.
 Padahal banyak prasasti menceritakan betapa cermatnya pelaksanaan pengadilan pada zaman Majapahit.
Kemungkinan besar Gajah Mada terlibat dalam pembunuhan raja, dan menyingkirkan Tanca adalah upaya menghilangkan jejak. Namun, pertanyaan penting yang harus ditanyakan seorang detektif sejarah adalah, siapa yang paling diuntungkan oleh kematian Jayanagara? Agaknya bukan Gajah Mada, yang kariernya sedang menanjak setelah menyelamatkan nyawa Jayanagara delapan tahun lalu. Nah, tentu saja, yang paling diuntungkan oleh insiden ini adalah Gayatri dan putri-putrinya.
 Pertama, menurut Sejarawan Slamet Mulyana, telah terjadi konflik intern di antara para istri Dyah Wijaya, sejak Dara Petak, selir dari Melayu, diangkat menjadi istri yang dituakan dan wajib dihormati. Gayatri dan kakak-kakaknya, pewaris trah Singhasari yang asli berdarah Jawa, tentu merasa tersinggung. Apalagi, anak Dara Petak, yakni Jayanagara yang berdarah Jawa-Melayu, diangkat menjadi putra mahkota, sebagaimana tercatat dalam Prasasti Sukamerta (1296 M). Sehingga, dengan tersingkirnya Jayanegara, garis darah Kertanegara dapat berlanjut di tampuk kekuasaan Majapahit. Kedua, terbunuhnya Jayanagara membebaskan putri-putri Gayatri dari niatan sang raja untuk melakukan incest.
 Di zaman itu pernikahan antarsepupu masihlah umum, namun pernikahan antarsaudara jelas tidak bermoral. Ketiga, sejak kecil Gayatri terbiasa dengan karakter ayahnya yang kuat dan tegas. Namun, karakter itu tidak ada dalam diri Jayanagara, yang dalam Pararaton diejek sebagai Kalagemet, yang berarti “jahat” dan “lemah”.
Raja yang lemah adalah ancaman bagi keberlangsungan negara. Dan itu terbukti dari banyaknya pemberontakan semasa pemerintahan Jayanagara, Salah satunya pemberontakan Ra Kuti, yang berhasil menduduki ibukota dan hampir menghancurkan Majapahit.
Bisa jadi Gayatri berhasil meyakinkan Gajah Mada bahwa satu-satunya cara menyelamatkan Majapahit dan membesarkannya seperti Singhasari, adalah menyingkirkan Jayanagara dan menggantinya dengan pemimpin yang lebih kuat. Dan Gajah Mada pun memilih siasat yang dipakai Anusapati saat menghabisi Ken Angrok, yakni “nggepuk nyilih tangan”. Maka, dengan terbunuhnya Jayanagara, takhta Majapahit pun jatuh ke tangan Gayatri dan keturunannya. 
2. BERMANUVER DARI BALIK LAYAR
Negarakertagama mengabarkan, setelah kematian Jayanagara, Dyah Gitarja menjadi penguasa Majapahit ketiga dengan gelar Tribhuwana Wijayatunggadewi. Banyak yang menganggap, Gayatri menyerahkan haknya atas takhta karena ia hendak meninggalkan keduniawian dan menjadi biksuni.
Namun, benarkah demikian? Mari kita mundur sejenak untuk memahaminya lebih utuh. Kerajaan Singhasari dan Majapahit dibangun oleh dua klan yang sama kuatnya, yakni Rajasa yang adalah keturunan Ken Angrok, dan Sinelir yang adalah keturunan Tunggul Ametung. Ketika dua klan ini memerintah berdampingan, seperti pada zaman Ranggawuni dan Mahisa Cempaka, terjadi kestabilan. Namun, saat Raja Kertanegara dari klan Sinelir berambisi menyatukan Jawa dan nusantara, muncul rongrongan dari loyalis Klan Rajasa, Salah satunya Arya Wiraraja, yang berperan besar menjatuhkan Singhasari, tetapi mau membantu sang pangeran dari klan Rajasa, yakni Dyah Wijaya.
Nah, Gayatri sadar, dirinya bukan dari klan Rajasa. Namun, dalam diri putrinya, Tribhuwana, mengalir darah Sinelir dan juga Rajasa. Maka, langkah Gayatri menyerahkan tahta kepada sang putri adalah keputusan politis yang membawa stabilitas bagi Majapahit. Situasi ini mirip dengan pernikahan lintas agama antara Pramodhawardani dan Rakai Pikatan, yang berhasil menyatukan wangsa Syailendra dan Sanjaya pada masa Mataram kuno
Selain itu, dengan duduknya Tribhuwana di tahta Majapahit, Gayatri dapat bermanuver dengan lebih leluasa dari balik layar.
Sumber primer berupa Prasasti Geneng II (1329 M) mencatat bahwa dalam menjalankan pemerintahan, Tribhuwana dibimbing dan diawasi langsung oleh Gayatri. Sementara, tidak satu pun sumber sejarah yang menyebutkan bahwa Jayanagara pernah mendapat perlakuan yang sama. 
3. MENGANGKAT GAJAH MADA MENJADI MAHAPATIH 
Gajah Mada memulai kariernya di Majapahit sebagai bekel, atau pemimpin pasukan elit penjaga raja. Namun karirnya melesat dengan sangat cepat. Dari seorang patih daerah, ia langsung diangkat menjadi mahapatih, atau perdana menteri, Sebuah jabatan yang vital karena berkuasa menjalankan roda pemerintahan atas amanat raja.
 Menurut Pararaton, saat Mpu Krewes, mahapatih sebelumnya, hendak mengundurkan diri karena telah tua dan sakit-sakitan, Ratu Tribhuwana tidak mengizinkannya karena Gajah Mada belum siap. Namun, begitu Gajah Mada siap, suksesi terjadi dalam seketika. Seolah jabatan itu telah disiapkan untuk Gajah Mada. Kemungkinan ini bagian dari negosiasi Gayatri saat ia meminta Gajah Mada menyingkirkan Jayanagara. Nah, di balik semua yang terjadi, sebenarnya apa sih tujuan utama Gayatri?
 Poin berikut akan menjelaskannya lebih jauh. 
4.MENGOBARKAN KEMBALI POLITIK NUSANTARA 
Gayatri tumbuh dalam kerajaan besar yang hampir berhasil menyatukan nusantara.
Maka, bukan mustahil Gayatri pun ingin mewujudkan mimpi ayahnya di Majapahit. Baik Tribhuwana maupun Gajah Mada adalah generasi baru yang tak mengenal langsung Kertanegara dan visi besarnya. Namun dengan Gayatri di belakang mereka, visi itu dapat diwujudkan kembali.
Kisah perjuangan Kertanegara untuk menyatukan Nusantara dan alasan di baliknya, dapat ditonton nanti pada tautan di atas atau di deskripsi. Seusai dilantik sebagai mahapatih, Gajah Mada mengikrarkan sumpah palapa untuk menyatukan nusantara di bawah panji Majapahit. Seluruh hadirin menertawakannya, kecuali Ratu Tribhuwana, dan Gayatri, di balik layar.
Menurut catatan Pararaton, atas restu Ratu Tribhuwana, mereka yang menertawakan dibunuh di tempat oleh Gajah Mada tanpa konsekuensi hukum. Selain itu, dalam prasasti Singhasari (1351 M), ketika Gajah Mada membangun candi pendarmaan sebagai baktinya kepada mendiang Raja Kertanegara, dia menyatakan dirinya sebagai pelaksana mewakili Ratu Tribhuwana.
 Di sini jelas bahwa warna politik Gajah Mada, adalah meneruskan politik dwipantara Kertanegara menjadi politik nusantara Majapahit. Maka, dengan bimbingan Gayatri, kekuasaan Ratu Tribhuwana, dan kecakapan eksekusi Gajah Mada, Majapahit pun tumbuh menjadi kemaharajaan besar. Ekspansi dan kejayaan imperium ini, akan kami bahas dalam episode Perempuan Nusantara selanjutnya, yakni Tribhuwana Tunggadewi. Jika sudah ada, videonya bisa dicek nanti di atas atau di deskripsi, ya. Inilah kisah Gayatri, perempuan hebat yang membimbing Majapahit menyongsong masa keemasannya, Sekaligus salah satu jenius politik dalam panggung sejarah nusantara Dan itu dimungkinkan, karena ia belajar dari peristiwa-peristiwa di masa lampau, termasuk kemalangan yang menimpa kerajaan ayahnya, sehingga langkah-langkahnya pun menjadi taktis dan bijak.
Tuhan menciptakan alam semesta untuk bergerak dalam pola yang kita sebut siklus. Dan dengan pola yang sama, peristiwa-peristiwa di masa silam akan terus berulang di sepanjang zaman. Sehingga, hanya mereka yang menghargai sejarah dan mengarifinya dengan sungguh-sungguh, yang mampu memprediksi kemungkinan di masa depan, dan mengambil tindakan yang tepat di masa kini, Layaknya Gayatri Rajapatni.
Sumber : Teks & Narari dikutip dari kanal Youtube /Asisi Channel 

Pos terkait