Legenda Gunung Slamet Di Jawa Tengah, Hingga Mitosnya Ramalan Jayabaya

Foto : Republika.co.id

Warta Lain – Memiliki ketinggian 3428 meter dari permukaan laut, Gunung Slamet adalah sebuah gunung berapi yang terdapat di pulau Jawa Indonesia, Dikutip dari kanal Youtube Berbagi Tahu, Rabu (5/1/22)
Gunung Slamet terletak diantara Lima Kabupaten yaitu kabupaten Brebes, kabupaten Banyumas, Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Tegal, dan Kabupaten Pemalang, provinsi Jawa Tengah
Gunung Slamet merupakan gunung tertinggi di Jawa Tengah serta kedua tertinggi di Pulau Jawa setelah Gunung Semeru
Kawah empat merupakan kawah terakhir yang masih aktif sampai sekarang dan terakhir aktif hingga pada level siaga pada tahun 2009 silam
Gunung Slamet cukup populer sebagai sasaran pendakian, meskipun Medannya dikenal sulit di kaki Gunung ini terletak kawasan Wisata Baturaden yang menjadi andalan Kabupaten Banyumas karena hanya berjarak sekitar 15 km dari Purwokerto
Sebagaimana gunung api lainnya di Pulau Jawa Gunung Slamet terbentuk akibat subduksi lempeng indo-australia pada lempeng Eurasia di selatan pulau Jawa Letakkan pada lempeng membuka jalur lava kepermukaan
Catatan letusan diketahui sejak abad ke-19 Gunung ini aktif dan sering mengalami erupsi skala kecil aktivitas terakhir adalah pada bulan Mei 2009 dan sampai Juni masih terus mengeluarkan lava pijar 
Sebelumnya Gunung Slamet tercatat meletus pada tahun 1999 pada maret 2014 Gunung Slamet menunjukkan aktivitas dan statusnya menjadi waspada berdasarkan data BMKG, aktivitas Vulkanik Gunung Slamet masjid fluktuatif setelah sempat terjadi gempa letusan hingga sebanyak 171 kali pada 14 Mar 2014 dari 00.00 sampai dengan 12.00 WIB 
Pada durasi waktu yang sama tercatat sebanyak 50 tujuh kali gempa letusan, 
Sejarawan Belanda Jin Edwin berteori bahwa nama Slamet adalah relatif baru yaitu setelah masuknya Islam ke Jawa
Kata itu merupakan pinjaman dari bahasa Arab ia mengemukakan pendapat bahwa yang disebut sebagai gunung agung dalam naskah berbahasa Sunda mengenai petualangan pujangga manik adalah gunung Slamet berdasarkan pemaparan lokasi yang disebutkan
Berdasarkan Cerita yang berkembang di masyarakat, Gunung Slamet pertama kali diberi nama oleh Syekh Maulana Maghribi seorang penyebar agama Islam yang berasal dari negeri Rum Turki, disana dia merupakan seorang pangeran
Suatu hari setelah melaksanakan ibadah shalat subuh Syekh Maulana melihat cahaya misterius yang menjulang tinggi di angkasa
Sang pangeran itu merasa tertarik dan ingin mengetahui sumber cahaya misterius tersebut, beliau pun memutuskan untuk menyelidikinya sembari menyebarkan agama Islam dengan ditemani pengikutnya yang setia bernama Haji Datuk serta ratusan pengawal kerajaan mereka berlayar menuju ke arah Sumber Cahaya misterius
Namun ketika kapal yang ditumpanginya tiba di Pantai Gresik Jawa Timur tiba-tiba cahaya tersebut muncul kembali di sebelah barat dia pun memutuskan untuk ke arah barat hingga sampai di Pantai Pemalang Jawa Tengah 
Sampai Di Pemalang Syekh Maulana menyuruh hulubalangnya untuk pulang ke Turki, sementara beliau melanjutkan perjalanannya dengan ditemani Haji Datuk dengan berjalan kaki ke arah selatan sambil menyebarkan agama Islam 
Ketika kala tersebut melewati daerah Banjar tiba-tiba beliau menderita sakit gatal di sekujur tubuhnya dan penyakit katanya itu pun sulit untuk disembuhkan
Suatu malam setelah menjalankan salat tahajud Syekh Maulana mendapatkan Ilham jika beliau harus pergi ke gunung Gora, Setibanya di lereng gunung Gora beliau meminta Haji Datuk untuk meninggalkannya sendiri dan menunggu di suatu tempat yang mengeluarkan kepulan asap ternyata disitu ada sumber air panas yang mempunyai tujuh buah Pancuran
Syekh Maulana memutuskan tinggal di sana untuk berobat dengan mandi secara teratur di sumber air panas yang memiliki tujuh buah mata air, berkat kemajuan air panas itu akhirnya penyakit yang dideritanya sembuh total
Kemudian Syekh Maulana memberi nama tempat itu menjadi pancuran tujuh, penduduk sekitar menyebut Syekh Maulana dengan nama Mbah atas angin karena datang dari negeri yang jauh
Kemudian Syekh Maulana Maghribi memberi gelar kepada Haji Datuk dengan sebutan rusuludi yang dalam bahasa Jawa berarti Batur Kang Adit atau Abdi yang setia 
Sementara Desa itu kemudian dikenal dengan sebutan Baturaden yang lama-kelamaan menjadi Baturaden yang dalam penulisannya menggunakan satu er yaitu Baturaden
Karena Syekh Maulana mendapat kesembuhan penyakit gatal dan keselamatan di lereng gunung Gora maka beliau mengganti nama menjadi gunung Slamet
Berbicara soal ramalan ada banyak petuah Jayabaya yang mengejutkan orang, termasuk salah satunya yang paling ngeri adalah “blogroll tanah jowo kaping pindho” yang bisa diartikan sebagai mematahkan jawa untuk yang kedua kali 
Ramalan Jayabaya memang tak pernah sangat jelas selalu dikemas dengan syair sehingga tafsirnya bisa berbeda-beda, tapi yang satu itu menurut banyak orang Cukup jelas artinya lalu Apakah benar Jawa akan terpisah Jadi dua bagian kemudian apa saja tandanya jika benar-benar demikian 
Berdasarkan cerita dari berbagai sumber dikatakan bahwa Jawa dan Sumatera dulunya adalah satu kepulauan selain bukti fisik hal ini juga bisa dilihat dari cerita-cerita sejarah
Kemudian lantaran masih satu area maka orang dulu menyebutnya Sunda besar atau mungkin ada yang bilang Jawa saja 
Lalu apa korelasi hal ini dengan ramalan Jayabaya seperti yang kita tahu Jawa dan Sumatera akhirnya terpisah karena beberapa hal termasuk salahnya adalah meledaknya Gunung Krakatau pada tahun 1883
Letusan gunung yang anaknya masih eksis ini memang luar biasa, salah satunya membuat dunia gelap
Sementara karena Abu vulkanis nya karena ledakannya pula akhirnya daratan yang menghubungkan Jawa dan Sumatera sekarang terpecah
 Banyak orang yang kemudian mengaitkan ini sebagai realisasi dari ramalan Jayabaya soal Jawa yang patah alhasil tidak sedikit pula yang menyimpulkan jika petuah sang raja sudah terjadi sehingga kita bisa tenang tapi di ramalan disebutkan kata kaping pindho yang artinya dua kali lalu
 Apakah setelah kisahnya Jawa dengan Sumatera akan terjadi hal yang serupa wallahualam bissawab
 Ramalan Jayabaya soal Jawa yang patah juga erat kaitannya dengan Gunung Slamet jadi menurut mitos masyarakat setempat 
Seandainya yang ada di lima kabupaten di Jawa Tengah ini meledak maka Jawa akan benar-benar terbelah bahkan menurut sesepuh di sana kejadian tersebut akan membuat laut utara dan selatan Jawa bertemu 
Mitos memang kadang susah dipercaya tapi kita lakukan analisis kecil kalau dilihat di peta letak Gunung Slamet ini memang pas sekali di tengah-tengah Jawa, baik dari selatan ke utara maupun Barat ke Timur dan faktanya Gunung Slamet adalah salah satu dari sekian gunung di Jawa yang masih aktif sampai sekarang, di mana bisa sangat mungkin untuk meletus
 Jika pada akhirnya benar-benar meledak maka memang tidak mustahil ia bakal membuat retakkan yang begitu besar dan akhirnya jadi bukti ramalan 
Semoga saja hal ini tidak terjadi gunung ini dinamai Slamet Bukan Tanpa Alasan melainkan sebagai sebuah doa jika kondisi geografis Indonesia memang tidak dipungkiri Jawa mungkin benar-benar bisa terpisah Jadi dua seperti yang kita pelajari disekolah 
Posisi negeri ini terletak di cincin api Pasifik di mana sangat rentan terjadi letusan gunung berapi tentu sudah banyak yang kita lihat sebagai bukti dengan ditambah fakta kalau gunung berapi tidak hanya meledak sekali
 Entah kapan mungkin akan ada masa dimana gunung-gunung aktif kita bereaksi sehingga memicu ledakan yang luar biasa sehingga pada akhirnya benar-benar memecah Jawa Jadi dua 
Tentu kita tidak berharap demikian hanya saja jika berbicara secara probabilitas alias kemungkinan hal tersebut memang mungkin terjadi
 Melihat posisi Indonesia yang berada di tapal kuda ini membaca ramalan Jayabaya memang sama sekali tidak mudah karena untaian-untaian baiknya penuh dengan kiasan seperti ramalan Jowo kalungan Wesi yang diartikan orang-orang sebagai pulau Jawa yang terbangun real sehingga mirip kalung
 Soal Jawa terbelah juga bisa dipandang secara berbeda Sampai sekarang masih jadi misteri tentang ramalan sang prabu soal pecahnya Jawa tetapi hal yang demikian tentu kembali kepada masing-masing orang
Apakah mempercayai atau hanya dijadikan baik zaman lampau yang tak akan terjadi, namun soal persatuan zaman sekarang yang agak miris Adakah yang berpikir jika mungkin itulah yang sebenarnya dimaksud Jayabaya dalam ramalannya
Sumber :Yt/Berbagi Tahu

Pos terkait