Operasi Intelijen Dibalik Lengsernya Gusdur

Foto :Istimewa 
WARTAPANTURA.ID – 23 Juli 2001, Sebuah konferensi pers digelar. Amien Rais, sang Ketua MPR, berbicara di hadapan wartawan.
Keputusan pemakzulan memang pahit. Makin panas karena para pendukung Gus Dur juga berkumpul di Istana Negara setelah mereka dilarang berdemo di Gedung DPR/MPR.
Santer terdengar juga kabar soal moncong-moncong meriam militer yang diarahkan ke Istana. Ramai pendukung jelang makin malam, Gus Dur akhirnya menampakkan diri keluar Istana. Mengenakan kaos dan celana pendek, didampingi salah satunya oleh putrinya sendiri Zannuba Ariffah Chafsoh Wahid atau Yenny Wahid.
Menyapa pendukung dan melambai malam itu. Gus Dur baru benar-benar meninggalkan Istana pada 25 Juli 2001 dan pergi ke Amerika Serikat karena alasan kesehatan.
Sementara itu nan jauh di balik meja-meja penuh dokumen, sekelompok orang merayakan suksesnya sebuah operasi intelijen.
Operasi Mesin Waktu penggulingan Gus Dur Telah Berhasil! Well, argumentasi bahwa ada operasi intelijen di balik kejatuhan Gus Dur sebetulnya bukan ucapan tanpa dasar.
Dalam bukunya Perjalanan Intelijen Santri, mantan Wakil Kepala BIN As’ad Said Ali menjelaskan operasi penjatuhan tersebut.
Seperti kita ketahui, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur adalah pemikir dan pemimpin yang melampaui zamannya.
Ia memang memiliki tempat tersendiri di tengah masyarakat. Ia begitu unik sekaligus misterius. Berbagai spekulasi dan analisis bertebaran soal penjatuhan Gus Dur. Ada yang menyebut nama Amien Rais, bertolak dari posisinya sebagai Ketua MPR saat itu. Ada pula yang menyebut operasi Megawati Soekarnoputri agar menjadi presiden.
Analisis ini misalnya diungkapkan oleh mantan Juru Bicara Gus Dur, Adhie Massardi. Nah, As’ad Said Ali mengetengahkan narasi soal operasi intelijen di balik jatuhnya Gus Dur. Buat yang belum tahu, As’ad Said Ali adalah sosok sipil pertama yang menjadi pimpinan di BIN.
Jadi kisah berikut ini dikutip dari buku Perjalanan Intelijen Santri tersebut ya. Disebutkan bahwa pada Desember 2000, bersama dengan Kepala BIN Arie J.
As’ad melaporkan terdapat indikasi penjatuhan presiden melalui proses politik di legislatif yang diberi kata sandi “Mesin Waktu”. Operasi ini disebutkan meliputi tiga isu. 
Pertama, pembentukan opini di media melalui berbagai kasus, misalnya Bulog Gate dan Brunei Gate. 
Kedua, menggerakkan aksi massa untuk memanaskan opini. Ini juga sebagai persiapan mobilisasi massa besar-besaran.
Ketiga, membentuk circle-circle kekuatan lintas fraksi di parlemen. BIN sebenarnya telah mengetahui terdapat tujuh tokoh di baliknya, namun tidak disampaikan karena dikhawatirkan bocor. Menurut As’ad, awalnya Gus Dur tidak menanggapi serius informasi tersebut karena menilainya masih dalam koridor demokrasi.
Namun, Gus Dur kemudian tetap bertanya perihal kekuatan kelompok itu. Dijelaskan bahwa untuk menjatuhkan Gus Dur, itu bisa berhasil jika mendapat dukungan politik, minimal dari Megawati dan Amien Rais, serta jika ada pelanggaran hukum.
Mendengar analisis tersebut, Gus Dur menyebut tidak perlu khawatir karena Megawati dan Amien dinilai tidak akan menyusahkannya. Namun sebagai pencegahan, As’ad kemudian menemui Amien. Dalam pertemuan itu baru diketahui, ternyata Amien kesulitan berkomunikasi dengan Gus Dur sejak bulan kelima Gus Dur menjabat. Hal yang sama juga terjadi pada Ketua Umum PKB Matori Abdul Djalil. Dari sana kemudian disadari, bahwa operasi Mesin Waktu tampaknya sudah berjalan lama.
Sejak bulan kelima, komunikasi Gus Dur diputus dengan pihak-pihak penting. Dalam pemaparannya, As’ad juga dengan tegas membantah Amien sebagai dalang kejatuhan Gus Dur.
Malah sebaliknya, Amien begitu mendukung kepemimpinan Gus Dur. Entah bagaimana, operasi ini telah masuk ke dalam ruang-ruang Istana. Pasalnya, tidak hanya kolega politik, kolega dekat dan keluarga Gus Dur juga mengalami hal yang sama.
Ini misalnya ditarik dari keluhan seorang keluarga Gus Dur karena fax yang dikirimnya setiap jam 2 malam tidak pernah sampai ke meja presiden. Selain itu, pertemuan rahasia Gus Dur dengan Amien di Darwin, entah bagaimana dapat bocor ke berbagai media. Kondisi psikologi politik dan internal Istana begitu emosional saat itu. Keluarga dekat Gus Dur bahkan sampai mendukung usulan Dekrit Presiden yang kemudian hari menjadi preseden sidang istimewa MPR. Menurut As’ad, sampai hari-hari terakhir, Gus Dur sebenarnya begitu ragu untuk mengeluarkan Dekrit. 
Namun entah bagaimana, Dekrit itu keluar, dan jatuh lah Gus Dur dari kursi kepresidenan. Menariknya, As’ad menyebut Gus Dur mendapat berbagai tawaran politik agar kekuasaannya bertahan. Mulai dari melimpahkan sebagian wewenang presiden kepada wakil presiden, hingga pembentukan “Kabinet Empat Kaki” yang terdiri dari Poros Tengah, PDIP, Golkar, dan TNI. Kedua tawaran itu ditolak Gus Dur. Kemudian ada tawaran dari sebuah yayasan internasional yang berbasis di Amerika Serikat yang memiliki analisis yang sama dengan BIN bahwa Gus Dur akan jatuh.
Sebagai solusi, utusan yayasan itu akan mempersiapkan pesawat evakuasi bagi Gus Dur dan keluarganya ke John Hopkins University Hospital di Baltimore, AS, dengan alasan menjalani perawatan kesehatan. Utusan itu mengatakan, Gus Dur harus tetap menjadi presiden, meskipun hanya sebagai simbol karena Indonesia sedang berjuang menjadi negara demokrasi Muslim terbesar di dunia. Jika berhasil, itu dinilai dapat mempengaruhi negara-negara Islam lainnya. Namun sekali lagi, Gus Dur juga menolak tawaran tersebut sekalipun beberapa sumber menyebutkan bahwa pada tanggal 25 Juli 2001, Gus Dur pada akhirnya bertolak ke AS. Penuturan As’ad ini menarik dan menunjukkan bahwa ada upaya kompleks yang terjadi di seputaran upaya pemakzulan Gus Dur.
Kita memang tahu bahwa Gus Dur punya terobosan-terobosan yang progresif, misalnya soal permintaan maaf atas tragedi 1965 dan lain sebagainya. Namun, operasi intelijen ini menjadi dimensi lain dari persoalan pemakzulan Gus Dur. Terkait sikap anti kompromi memang menjadi salah satu titik balik yang menarik dari Gus Dur. Pasalnya, konteks kemampuan menciptakan konsensus sering dianggap sebagai skill utama dari seorang pemimpin. Mungkin itulah yang membedakan era Gus Dur dengan era saat ini, di mana pemimpin selalu berusaha untuk menciptakan konsensus demi stabilitas politik.
Tapi kalau alasan bahwa komunikasinya memang terputus seperti dalam kasus Amien Rais, maka bisa saja kompleksitas isunya saat itu jauh lebih rumit dari yang dibayangkan. Mungkin ini juga yang membedakan Gus Dur dari pemimpin-pemimpin pada umumnya. Kalau berkaca dari pemikiran Machiavelli, kehebatan seorang penguasa, bukan terletak pada kecerdasaan, kebaikan, atau kengeriannya, melainkan kemampuannya dalam mengonsolidasi kekuasaan, meredam potensi perlawanan, dan menjaga dukungan masyarakat. Dalam konteks intelijen, meminjam elaborasi mantan Kepala BIN A.M.
Hendro priyono dalam bukunya yang berjudul Filsafat Intelijen Negara Republik Indonesia, informasi intelijen itu seperti gergaji. “Jika kita gagal menggergaji kayu, tidak benar jika kita membanting atau memaki-maki alat gergajinya,” demikian kata Hendro. Dalam konteks Gus Dur, mungkin sang presiden kala itu punya pertimbangan sendiri tak begitu serius menanggapi informasi yang diberikan BIN. Apapun itu, kita hanya bisa merefleksikan kembali momen kejatuhan Gus Dur itu dalam bingkai momentum politik perjalanan Indonesia sebagai sebuah negara demokrasi.
Toh pada akhirnya yang mendampingi Gus Dur melambai ke para pendukungnya di Istana adalah putrinya sendiri, Yenny Wahid.
Ini mungkin jadi gambaran besar juga bahwa ketika bicara tentang kepercayaan dan kesetiaan, keluarga adalah jawaban dari hampir semua persoalan. Pada akhirnya memang jadi tak penting lagi apakah itu persoalan intelijen atau bukan. Sebab, seperti kata Gus Dur sendiri: “Menyesali nasib tidak akan mengubah keadaan. Terus berkarya dan bekerjalah yang membuat kita berharga.”.
Sumber Referensi :yt/pinter politik

Pos terkait