Rumah Jenderal di Jatinegara

Foto : Silvia Galikano
Warta Sejarah – Jalan ini menyimpan banyak cerita yang tak terjangkau khalayak luas. Jalan Jenderal Urip Sumoharjo diketahui semata-mata sebagai Wilayah Komplek Perwira Angkatan Darat (KPAD). Tak lebih.
Letaknya di sodetan Jalan Matraman Raya Jakarta Timur, tak jauh dari gereja Koinonia, di lingkup kantor-kantor TNI Angkatan Darat. Di sebelah kanannya ada Direktorat Peralatan TNI AD. Di seberangnya ada kantor Direktorat Zeni TNI AD. Tak jauh dari sana ada perumahan TNI AD di Jalan Ksatrian yang dikenal sebagai kawasan Berlan (aslinya bernama Berenlaan).
Hal yang akan langsung menyergap mata ketika datang ke sini adalah keindahan arsitektur lamanya. Berlanggam Indisch, yakni campuran dari gaya Eropa dan gaya Timur. Pintu-pintu dan jendela setinggi 3 meter.
rumah urip sumoharjo
Rumah Urip di di Generaal Staallaan nomor 17. (Foto: Silvia Galikano).
Atap rumah berbentuk limas curam, sebagian masih menggunakan genting kodok, dan sebagian sudah menggantinya dengan genting baru berglasir. Ada ornamen atap yang terbuat dari kayu berbentuk unik. Jika diperhatikan, ornamen setiap rumah memiliki bentuk berbeda-beda.
Di zaman Belanda, Jalan Jenderal Urip Sumoharjo bernama Generaal Staallaan, merupakan perumahan perwira tinggi Belanda. Rumah-rumahnya dibangun pada awal abad ke-20.
Seumumnya rumah yang dibangun pada masa itu, peletakan bangunan induk terpisah dari service area, yakni ruang-ruang kecil yang difungsikan sebagai kamar mandi, gudang, dapur kotor, dan ruang untuk menyeterika. Antara rumah induk dan service area, aslinya adalah sumur timba.
Sekarang, seluruh rumah di sini sudah menutup sumurnya, dan diganti dengan pompa air listrik. Seluruh rumah induk pun sekarang memiliki kamar mandi, tidak lagi hanya di service area.
Susurilah dengan berjalan kaki. Lihat seksama rumah-rumah lamanya. Jika memungkinkan, mintalah izin pada pemilik rumah untuk melongok ke dalam. Melihat indahnya ubin berpola, tiang besi langsing di selasar belakang, pintunya yang kokoh, dan ventilasi yang sempurna membuat ruangan dalam tetap sejuk di siang paling terik sekalipun.
rumah urip sumoharjo
Interior Rumah Urip. (Foto: Silvia Galikano).
Walau berada di tengah hiruk-pikuk kota, Jalan Urip Sumoharjo tetap nyaman dan tenang. Lindung oleh pohon-pohon angsana. Pada sore hari, anak-anak bermain bola di jalan yang tak ramai dilalui mobil.
Berdasar keterangan Sunoto, Ketua RT setempat, luas kawasan ini hampir 3 hektare, dan rumah lama berjumlah 23 buah. Karena itu tak heran jika dulunya masing-masing rumah memiliki luas kira-kira 400 meter persegi di atas lahan 1250 meter persegi.
Tak semua rumah mempertahankan keaslian bentuk bangunan lama, sebagian bahkan sudah merombak total bangunannya. Bahkan ada satu rumah yang halaman belakangnya memiliki kolam renang.
Mulai tahun 1980-an, dibangun rumah-rumah baru berukuran kecil di sela-sela rumah lama. Pemanfaatan rumah lama pun berkembang, tidak hanya sebagai rumah tinggal. Service area disambung ke kanan dan ke kiri, menjadi rumah-rumah petak untuk dikontrakkan. Sekarang, tercatat lebih dari 150 kepala keluarga yang mukim di sini.
Berada di Jalan Urip Sumoharjo adalah berada di kawasan bersejarah. Rumah-rumahnya pernah dihuni orang-orang yang punya peran besar untuk negara. Bahkan, nama jalannya diambil dari nama Jenderal Urip Sumoharjo, Kepala Staf Umum TKR yang pertama pada 1945, dan di tahun 1947 menjadi Wakil Komandan TRI.
Pada tahun 1950-an, Urip menempati rumah dinas di Generaal Staallaan nomor 17. Rumah itu sekarang tak lagi berfungsi sebagai rumah tinggal, melainkan sebagai tempat latihan karate. Setelah penyerahan aset-aset Belanda ke pemerintah Republik Indonesia, tahun 1947 hingga 1950, Jenderal Urip Sumoharjo-lah orang Indonesia pertama yang menghuni General Staallaan.
Setelah tak lagi ditempati Urip, rumah tersebut difungsikan sebagai Mess Ajudan Jenderal (Ajen), sejak 1961 hingga 1995. Sempat dihuni Brigjen Selardi yang menjabat Komandan Ajen, hingga 2006. Baru kemudian dialihkan sebagai tempat latihan karate PB Institut Karate-do Indonesia (Inkai). Pengelolaannya dipegang Yayasan Bhakti Enam Sembilan (BES)-72, yayasan sosial para alumnus AKABRI Darat angkatan 1972.
rumah urip sumoharjo
Rumah Soewito Harjoko di Jalan Jenderal Urip Sumoharjo 21. (Foto: Silvia Galikano)
Masih ”untung” bangunannya sekarang benar-benar hanya rumah induk, karena sebelumnya, ada ruang-ruang tambahan di bagian samping yang menempel ke rumah induk. Ruang-ruang tambahan itu sekarang sudah diruntuhkan, namun belum bersih benar, karena masih tersisa lantainya. Di bagian belakang, yang dulunya melintang service area, sekarang menjadi rumah-rumah petak yang dikontrakkan.
”Kami ingin rumah bersejarah ini tetap berbentuk sebagaimana aslinya, karena itu bangunan tambahan yang menempel ke rumah induk kami bersihkan,” ujar Kol (Purn) Basuki, Bendahara Yayasan BES-72.
Tidak ada plang tertancap atau plakat di dinding yang menjelaskan bahwa rumah ini pernah jadi rumah dinas Wakil Komandan TRI Jenderal Urip Sumoharjo. Bagian dalam rumahnya cuma berisi seperangkat kursi rotan di ruang tamu. Ruang tengah, ruang paling luas dibanding ruang-ruang lain, digunakan sebagai tempat latihan karate. Ada cermin selebar dinding sebagai pendukung latihan.
Perawatan gedungnya masih sangat terjaga. Dinding dicat putih, pintu-jendela-kusen dicat kuning gading, tidak ada jejak bocor di langit-langitnya, dan lantainya tetap menggunakan ubin berpola.
rumah urip sumoharjo
Ornamen atap di Kompleks AD Urip Sumoharjo, Jatinegara, Jakarta Timur. (Foto: Silvia Galikano)
Memang tidak ada keterangan tentang Urip Sumoharjo yang bisa didapat jika datang ke rumah ini. Akan tetapi, penghuni rumah kontrakan di deretan belakang rumah induk akan mempersilakan kita jika ingin melihat-lihat bagian dalam rumah, sadar bahwa rumah ini pernah dihuni seorang pahlawan nasional.
Satu rumah lain yang sangat terjaga kondisinya adalah di Jalan Jenderal Urip Sumoharjo 21/ D13 (21 nomor urut letak, D13 kode tipe bangunan). Rumah ini dihuni HN Lemana Ningsih, 64 tahun, istri alm. Brigjen Soewito Harjoko. Di masa hidupnya, yakni pada 1964, Brigjen Soewito Harjoko pernah menjabat Staf Pribadi Menpangad Jenderal Ahmad Yani.
Soewito menempati rumah ini mulai tahun 1965 saat lahannya masih seluas 1100 meter persegi. Setelah sebagian halaman samping dan belakang rumah difungsikan Angkatan Darat sebagai rumah anggota, kini luas lahan tinggal 900 meter persegi.
Bangunan utamanya terdiri dari ruang tamu bersisian dengan ruang kerja yang dipisahkan partisi. Ruang lain adalah empat kamar tidur, ruang keluarga, ruang makan berikut dapur bersih, dan kamar mandi. Keluar dari pintu dapur ada selasar yang menghubungkan bangunan utama dengan service area.
Sumber : Silviagalikano.com
Di posting 27/5/2008

Pos terkait