Sejarah Bangunan heritage kembar di kawasan Kayutangan – Malang, Hingga Alih Fungsi Menjadi Sebuah Cafe

Foto : Istimewa

Warta Sejarah – Bangunan heritage kembar di kawasan Kayutangan, Malang, yang mengalami nasib yang berbeda. Satu terjaga dan terawat, kini difungsikan sebagai kafe, satunya tidak/belum dimanfaatkan, sebelumnya sebagai kantor Bank swasta
Berdasarkan penuturan pemerhati sejarah dan cagar budaya, Tjahjana Indra Kusuma, bangunan kembar yang berada di perempatan Kayutangan (Jalan Basuki Rahmat, Jalan Semeru, dan Jalan Kahuripan) tersebut dirancang oleh arsitek Karel HG Bos pada 1935, dan selesai dibangun setahun kemudian.
Ide untuk membuat bangunan kembar ini muncul di benak Karel Bos karena inspirasi dari dirinya sendiri yang memang baru saja memiliki anak kembar. Bangunan ini akhirnya menjadi salah satu ikon yang membentuk kota Malang dengan pemandangan pada masa itu yg dapat mengarah langsung ke pegunungan Putri Tidur di sebelah barat kota Malang 
Karya ini dikabarkan pada IBT (Indisch Bouwkunding Tijdschrift) Locale Techniek Nomor 3 Tahun 1936, yang merupakan karya fenomenal, sebagai penanda ujung pintu masuk kawasan Bergenbuurt (kawasan jalan gunung-gunung) dari poros Jan Pieterszoon Coen Plein (Taman JP Coen), dengan latar belakang Gunung Kawi jika dilihat dari sisi timur atau arah Balai Kota Malang.
Jalan poros ini dibuat dengan disertai pembangunan dua buah jembatan besar, di Van Riebeeck Straat (sekarang Jalan Kahuripan) dan Speelmaan Straat (sekarang Jalan Majapahit). Keberadaan gedung di perempatan Kayutangan ini menjadi semacam landmark berupa gapura ke arah kawasan Bergenbuurt dan Kawasan Kayutangan, sebagai pusat perdagangan setelah era modernisasi arsitektural dengan multi blok toko, di mana dalam satu blok terdiri dari beberapa toko dan menyatu.
Gaya arsitektur yang dimiliki banguman kembar ini merupakan aliran Nieuwe Bouwen, yang mengutamakan aspek fungsional untuk beradaptasi dengan iklim setempat. Di bagian atas gedung terdapat menara yang berfungsi untuk mengamati kondisi sekitar.
Bangunan kembar yang dulu menjadi ikon Kota Malang pada awalnya di bagian utara dimiliki oleh taipan Tionghoa bernama Han Thiaw An, yang kemudian menjadi toko buku Boekhandel Slutter-C.C.T van Drop Co. Toko ini selanjutnya dibeli oleh keluarga Rajab-Ally, dan hingga kini lazim disebut perempatan Rajabally (lebih sering disebut dengan Rajabali).Sempat digunakan sebagai rumah makan padang dan sebagiannya digunakan oleh perusahaan bernama Rajabally yang bergerak di jasa penukaran uang.
Foto : Istimewa

Saat sekarang pemilik gedung bagian utara ini mengalihfungsikan gedung menjadi sebuah cafe yang bernuansa heritage, baru dibuka April 2021 yl. Sebelumnya dilakukan penambahan dan renovasi gedung, namun tidak secara total direnovasi atau bahkan dibongkar. Renovasi untuk memperkuat bangunan dan merapikan bagian dalam gedung, tanpa menghilangkan nilai heritage bangunan. Foto2nya terkini setelah dilakukan perbaikan/renovasi, termasuk penambahan beberapa ornamen kekinian
Sedang bangunan bagian selatan awalnya adalah milik Tan Siauw King, saudagar perhiasan emas pemilik Toko Emas Juwelier Tan hingga 1964-an. Kemudian berpindah tangan dan sempat disewa oleh Bank Commonwealth, tapi sayang kini sudah tidak digunakan lagi.Kondisinya kurang terawat, bahkan beberapa waktu lalu terjadi aksi vandalisme terhadap gedung tua ini. Berbeda dengan kembaran yg didepannya, yang sekarang difungsikan sebagai kafe “La Fayette Coffe & Eatery”
Pemanfaatan bangunan lama (heritage) yg bernilai sejarah untuk kantor, usaha kuliner/kafe dan kegiatan perekonomian lainnya, membantu upaya konservasi bangunan2 lama peninggalan masa lalu. Bangunan atau gedung tetap terjaga,, terawat dan dapat dilakukan perbaikan segera bila tejadi kerusakan. Penetapan sbg cagar budaya oleh pemerintah setempat harus diikuti dengan kompensasi tertentu spt pengurangan pajak bumi dan bangunan.
Sumber Represensi :
Dikutip :fb/Mohamad Muchlis 

https://malangpagi.com/bangunan-eks-bank-commonwealth-kayutangan-dulu-berjaya-kini-tak-berdaya/

https://m.merdeka.com/malang/gaya-hidup/gedung-kembar-saksi-sejarah-di-perempatan-rajabally-malang-161128w.html

Pos terkait