Sekilas Tradisi EBEG Banyumas

WARTAPANTURA.ID – Memakai riasan putra gagah, alis njegrag keatas hampir menyerupai alisnya Werkudara. Tebalnya riasan tidak setebal Werkudara dan tidak memakai make up warna merah- merah. Penimbal/pawang Ebeg atau dalang memakai baju hitam.
Sebaran Ebeg tidak disemua Jawa Tengah, hanya ada dibeberapa daerah dengan nama yang berbeda-beda. Di Purbalingga namanya Embeg, di Banjarnegara namanya Embleg, Cilacap namanya Ebleg, dan di Purworejo namanya Jathilan. Namun substansinya dalam istilah Banyumas yang dipakai adalah Ebeg.
Kostum Tradisi Ebeg :
1. Jamang Ebeg/ Irah-irahan memakai Sumping, memakai Klat bahu di lengan tangan. 
2. Baju putih lengan panjang / kaos panjang
3. Kalung Kace
4. Celana ¾
5. Jarit atau Keci
6. Stagen
7. Slepe/Sabuk
8. Barosamir kanan,kiri
9. Binggel atau gelang kaki
10. Sampur atau Selendang
Tempat pentas ebeg ditempat yang cukup lapang seperti di kebon atau kebun yang terdapat tanah kosong, dilapangan dan di sawah yang kering.
Ketika Ebeg dijadikan sarana permohonan kepada Tuhannya agar turun hujan dilakukan ditengah-tengah sawah pada siang hari. Tradisi memohon turunnya hujan adalah agar tidak terjadi gagal panen. Adapun tujuan pentas pada masa dahulu pada masyarakat pedesaan untuk hiburan pada masyarakat sekitarnya. 
Lambat laun Ebeg memiliki nilai seni yang menawan hati masyarakat, mulailah tradisi tari ebeg ditanggap dirumah-rumah penduduk atau orang yang punya ujar (ketika anaknya sudah sembuh dari sakit akan ditanggapkan tari Ebeg). Tanggapan Ebeg bisa untuk acara khitanan atau pernikahan.
Lebih menarik lagi dijaman dahulu ketika kolinial Belanda (pabrik gula tebu akan beroperasi atau giling maka akan menanggap ebeg, lengger dan sejenisnya supaya tidak 
ada sambekala/hambatan-hambatan dalam proses penggilingan tebu menjadi gula). 
Disamping itu juga pemerintah nanggap dalam rangka pembukaan kegiatan dan lainnya, Ebeg dilakukan disiang hari.
Sebaran Ebeg tidak disemua wilayah Jawa Tengah ada karena pasca perang Diponegoro VOC melakukan float-float atau pembagian wilayah kekuasaan. Kebetulan Banyumas sendiri dibagian wilayah ujung barat dan yang pro atas perjuangan Diponegoro, maka dalam masyarakat pedesaan inilah muncul tarian ebeg yang menggabarkan kegagahan, dinamis, agresif, yang menggambarkan keprajuritan (Ageng Wijaya : 2014:13-14).
Walaupun ada beberapa kabupaten dan kota yang meniru gerakan-gerakan ebeg, di Banyumas data per tahun 2018 ada 212 grup paguyuban Ebeg. Data tahun 2019 ada 258 grup paguyuban Ebeg. 
Upaya upaya Pemerintah daerah dalam melindungi seni budaya Ebeg adalah diantaranya dalam saat pandemi covid 19 yaitu lomba pementasan Ebeg secara virtual, hal tersebut merupakan bagian dari upaya bantuan bagi seniman yang terdampak covid 19, adanya PAKUMAS (Paguyuban Ebeg Banyumas), adanya inventaris data paguyuban Ebeg di Dinas Pemuda, Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata atau Dinporabudpar, upaya pengembangan dari Pemerintah adalah diupayakan semua paguyuban yang ada di Banyumas terdaftar di Dinporabudpar agar adanya potret yang jelas terhadap paguyuban yang ada beserta anggotanya by age. Secara berkala Dinporabudpar memberi bimbingan pada para paguyuban di setiap Kecamatan. Upaya pemanfaatan Ebeg sebagai bagian dari muatan lokal di SD karena ada unsur seni budaya, sosial dan kepatriotikan. 
Ebeg juga bagian dari seni menyambut kedatangan tamu tamu dalam acara peresmian peresmian, dan upaya pembinaan adalah menguatkan kelembagaan agar Ebeg dapat tumbuh subur dan dicintai oleh generasi muda baik putra maupun putri sebagai seni kearifan lokal Banyumas.

Pos terkait